geleerdheid

10 Januari 2016 § 2 Komentar

Semua cerita ini akan berjalan ditengah dari ketakutan tentang masa depan yang abu-abu, dan rasa ambisi untuk mengalahkan ribuan saingan yang tidak tampak. Cerita ini mungkin bukan cerita yang akan menginspirasi kalian, bukan, tapi ada sesuatu yang terlalu berharga untuk tidak kuceritakan. Jadi, jangan salahkan aku untuk membagi salah satu geleerdheid milikku.

Ketika semua ini mulai, aku hanyalah seorang siswi SMA yang baru saja naik ke kelas tiga. Berlabel anak IPA, namun tidak pernah sekalipun lulus di mata pelajaran Kimia. Tak hanya itu, guru matematikaku pun masih dengan senang hati memberikan remedial ketiga bahkan keempat. Ya, aku sih senang saja dikasih kesempatan, tapi bukan itu intinya. Di hari itu ada sebuah percakapan ringan bersama salah seorang teman yang mengenalkanku dengan zenius.net

“Gue mau beli vouchernya hari ini, dith!” Kata temanku.

“Yaelah, emang lo yakin video kayak gitu bakal efisien? Ikutan bimbel aja suka bolos lo.” Dan begitulah responku pertama kalinya.

Percakapanpun putus begitu saja. Karena yah, mau dijawab apa? Semua orang kan menemukan jawabannya masing-masing.

Sebelumnya tak kusadari, tapi mungkin percakapan itu bukanlah kebetulan yang tidak dirancang oleh takdir.

Ditengah kegabutan liburan kenaikan kelas, semua kesibukan pun seakan menghilang. Menyisakan waktu panjang yang diisi dengan getar-getir  sendiri ketakutan akan Ujian Nasional, SNMPTN, SBMPTN dan segala macamnya. Seolah-olah seperti kelas tiga SMA adalah waktunya pesimis tingkat tinggi, galau bingung membedakan passion dan imaji, dan semua orang sibuk membuat cerita yang nantinya hanya akan dikenang lagi.

Lalu di suatu pagi, entah karena apa, aku menemukan sebuah artikel di blog zenius.net , berjudul Kenapa yah Belajar Kerasa Jadi Beban?

Respon yang tidak disangka adalah, aku nganga lebar. Maksudku, yah emang siapa yang pernah kepikiran sih, belajar dengan menganggapnya sebuah game menyenangkan? Negative Thinking langsung bertebaran di benakku. Tapi lucunya, aku malah tertantang mencobanya.

Saat itu aku memang tidak langsung beli voucher zenius seperti temanku. Tapi aku mempraktekan hal itu pada PR liburanku, yaitu 80 soal fisika yang sebelumnya bikin depresi setengah mati. Dan ajaibnya, ketika masuk sekolah, di antara sekelas teman baruku akulah yang menyelesaikan kedelapan puluhnya.

Memang bukan sebuah pencapaian besar, dan tidak semua jawabannya benar. Tapi itu kali pertama aku merasa jadi anak IPA sesungguhnya. Dan karena bentuk pola pikir yang baru ini, aku memutuskan untuk tidak ikut bimbel. Yah, pada akhirnya aku belajar via online, dengan jadwal sesuka hatiku. Meralat semua ucapanku yang pertama, zenius.net memang ngaruh!

Tapi hari-hariku di kelas tiga tidak mendadak jadi indah seperti di film-film. Seorang teman sekelasku pernah bertanya kenapa di tahun terakhir ini aku tampak seperti orang yang berbeda. Dia kagum sekaligus khawatir hingga bersikeras padaku untuk mendaftar sebuah bimbel yang sama dengannya. Tak hanya itu, bahkan orang tuaku terlihat mencemaskan aku karena aku yang ketagihan berlama-lama di depan laptop.

Saat itu, tidak ada satupun yang percaya kalau aku bisa bahkan tanpa tambahan bimbingan.

Saat itu, semua orang menatapku seakan berkata “Lo menjerumuskan diri lo sendiri, dith.”

Semua semakin menjadi-jadi saat mendekati Ujian Nasional. Berbekal dari naluri yang kutangkap dari artikel berjudul Pentingnya Berpikir Kritis di blog zenius, aku menolak ikutan patungan kunci UN. Saat itu aku mulai berpikir kalau aku tidak akan bisa kritis kalau jawaban yang kugunakan saja bukan dari kesimpulanku pribadi.

Rasanya saat itu ingin ketawa juga, pas nyontek saja remed terus apalagi pakai pemikiran sendiri. Teman-teman seperjuanganku bolak-balik memastikan apa aku baik-baik saja. Tapi yah, keputusanku sudah bulat.

“Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya. Tanpa bisa kita mengerti, tanpa bisa kita menawar. Terimalah dan hadapilah” – Soe Hok Gie

Sepintas tulisan itu menjadi penguat untuk aku tidak berhenti mempertahankannya.

Setelah Ujian Nasional semuanya terasa kelabu lagi. Rasa ketakutan itu muncul lagi. Penyebab utamanya karena semua urusan ini belum kelar. Aku harus memperjuangkan ujian yang lebih besar lagi, dan dengan resiko yang lebih membuatku susah tidur. Pindah haluan ke jurusan rumpun IPS, dan masih tidak ingin mendaftar bimbel.

Peperangan : SBMPTN

Target     : Sastra Arab – Universitas Indonesia

Untukku, semua ini menjadi babak yang lebih sulit lagi. Harus mengejar materi IPS dengan waktu hanya sebulan, dan melihat saingan yang sepertinya lebih banyak persiapan dibanding aku.

Jujur, aku tidak percaya pernah senekat itu. Semakin banyak yang mencemaskanku, bahkan tidak sedikit yang menasihatiku untuk siap-siap mendaftar sbmptn tahun depan. Ya, itu menyakitkan. Tapi aku sudah terlalu nyaman dengan cara belajar zenius.

Menyesuaikan waktu sefleksibel mungkin. Fokus pada materi yang tidak kukuasai. Bisa mengulang-ngulang video yang sama dalam waktu lama.

Aku hanya merasa, belajar dengan zenius membuatku lebih terarah. Minus dapat buku panduan tentang passing grade dan semacamnya, yang menurutku tindak penting juga.

Intinya, Aku merasa belajar dengan zenius seperti memberiku ke sebuah perjalanan di mana setiap harinya adalah revolusi belajar yang akan berujung pada kepuasan.

Persiapan SBMPTN benar-benar menjadi sesuatu yang tidak terlupakan. Hampir setiap hari minum kopi, bahkan hanya tidur 3-4 jam setiap hari. Berlama-lama dengan video yang sama. Mencoba memahami setiap langkah yang diberikan.

Sering sekali tertidur di tengah nonton video sejarah dari Faisal, lalu cerita tentang segala kerajaan Sriwijaya dan semacamnya muncul di dalam mimpi.

Terkadang saat mulai bosen, artikel-artikel blog zenius lah yang membuat semangat itu muncul kembali. Mulai dari tulisan Glenn Ardi sampai tulisan Wisnu Ops.

Dah, oh ya, saat Ujian itu benar-benar terjadi tetiba ada suara yang melintas di kepala. Dengan gaya khasnya dia berkata dalam benakku, “Nah, lo mulai kejebak lagi tuh.”

Karena kaget aku bolak-balik nengok kanan dan kiri memastikan Sabda PS tidak ada disekitarku. Aku yakin mendengar suara Sabda PS! Setelah kuteliti lagi, ternyata benar, ada jawaban yang lebih tepat. Sedikit seram sih, tapi itu terjadi!

Dan ketika semua ini selesai …

Aku berdiri di Balairung, mengenakan jaket kuning UI. Melemparkan bayanganku pada hari di mana aku tidak tau banyak hal. Dan hari-hari kepusinganku mengahadapi remedial. Lalu saat orang lain memandangku dengan khawatir.

Ternyata, ketika semua ini selesai …

Aku sadar telah melewati banyak sekali cerita. Ketakutan yang sebelumnya hanya bewarna kelabu, perlahan-lahan memisah menjadi hitam dan putih. Semua yang ketidakjelasan menemukan tempatnya masing-masing.

Dan aku sadar bahwa hal ini terjadi juga pada dunia. Menemukan kejelasannya masing-masing dengan sebutan Ilmu Pengetahuan. Memisahkan hitam dan putih dengan cara belajar.

Lalu bagaimana jika aku masih menganggap belajar dengan cara seperti dulu? Aku mungkin tidak akan sadar kalau ilmu pengetahuan ternyata sepenting itu.

Dan seharusnya sampai kapanpun, proses ini tidak akan selesai. Perjalanan yang sebenarnya masih jauh lebih panjang.

Jadi …

Bersama dengan ini, aku mengucapkan terima kasih banyak kepada zenius.net

Atas segala pembelajaran sejauh ini. Dan seperti kata Miley Cyrus :

it’s all about the climb

 

Dia, Kucingku.

7 Januari 2016 § Tinggalkan komentar

 [Percakapan yang sudah lama terjadi. Namun perasaan yang dibicarakan itu tetap saja berbekas.  –myyudith]

Luthfi : “dith, dith, gue mimpiin morry lagi”

Aku : “Kangen ya? Gue juga kangen manis”

Luthfi : “Gimana ya dith cara ngatasinya?”

….

hening.

Lalu, percakapan itu terputus begitu saja.

Ya, bagaimana?

Nyatanya satu tahun tanpa mereka juga tidak membuat kita selesai merindu. Bahkan makin terjerumus dengan ingatan manis seperti tengah menggendongnya ataupun melihati hujan bersama

Nyatanya, sekeras apapun kita mencoba mengatasi rindu itu. Justru kita yang membatasi agar kenangan itu tidak terkubur terlalu dalam. Nyatanya, mereka mungkin adalah peliharan terbaik seumur hidup.

Spesies : Kucing

Dengan status hewan kesayangan nabi.

Tidak, Manis-ku lebih dari peliharaan. Mungkin dia salah satu sahabat terbaik yang kupunya.

Aku percaya begitu juga pendapat Luthfi dengan Morry-nya.

Dan berikut ini, aku menyediakan satu pesan khusus tentangnya …

Teruntuk Manis, kucingku yang tidak akan bisa membaca pesan ini.
Meskipun tidak lagi ada sambutanmu di petang sore sepulang sekolah,
tapi aku tau kamu tidak akan berhenti menunggu. Dan kita akan berkumpul lagi suatu saat nanti. Untuk saat ini, sampai jumpa.

Where Am I?

You are currently viewing the archives for Januari, 2016 at Waktu Bengong.