Dia, Kucingku.

7 Januari 2016 § Tinggalkan komentar

 [Percakapan yang sudah lama terjadi. Namun perasaan yang dibicarakan itu tetap saja berbekas.  –myyudith]

Luthfi : “dith, dith, gue mimpiin morry lagi”

Aku : “Kangen ya? Gue juga kangen manis”

Luthfi : “Gimana ya dith cara ngatasinya?”

….

hening.

Lalu, percakapan itu terputus begitu saja.

Ya, bagaimana?

Nyatanya satu tahun tanpa mereka juga tidak membuat kita selesai merindu. Bahkan makin terjerumus dengan ingatan manis seperti tengah menggendongnya ataupun melihati hujan bersama

Nyatanya, sekeras apapun kita mencoba mengatasi rindu itu. Justru kita yang membatasi agar kenangan itu tidak terkubur terlalu dalam. Nyatanya, mereka mungkin adalah peliharan terbaik seumur hidup.

Spesies : Kucing

Dengan status hewan kesayangan nabi.

Tidak, Manis-ku lebih dari peliharaan. Mungkin dia salah satu sahabat terbaik yang kupunya.

Aku percaya begitu juga pendapat Luthfi dengan Morry-nya.

Dan berikut ini, aku menyediakan satu pesan khusus tentangnya …

Teruntuk Manis, kucingku yang tidak akan bisa membaca pesan ini.
Meskipun tidak lagi ada sambutanmu di petang sore sepulang sekolah,
tapi aku tau kamu tidak akan berhenti menunggu. Dan kita akan berkumpul lagi suatu saat nanti. Untuk saat ini, sampai jumpa.
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Dia, Kucingku. at Waktu Bengong.

meta

%d blogger menyukai ini: